Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2016

Haji Tanpa Pergi Ke Baitullah


Haji Tanpa Pergi Ke Baitullah - RABI’ bin Sulaiman al-Muradi rah adalah murid Imam Asy-Syafi’i, ia menulis kitabnya Al-umm Dab kitab Ushul Fiqih yang pertama di dunia yaitu Risalah Al-Jadidah. Rabi’ yang pertama kali menyebarkan Mahzhab Asy-Syafi’i.

Pada suati ketika Rabi’ bin Sulaiman berangkat haji bersama saudara laki-lakinya dan kafilah haji lainnya. Ketika tiba di Kufah, ia pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan diperjalanan.

Di suatu jalan sepi, ia melihat sosok perempuan yang sangat miskin sedang memotong-motong daging bangkai keledai dan dengan tergesa-gesa perempuan itu memasukan daging bangkai tadi kedalam kantongnya.

Melihat perbuatan tidak lazim itu, Rabi’ mencurigai jangan-jangan daging bangkai itu akan dijual kepada orang lain. Lalu ia bertekad untuk mencegahnya, ia pun mengikuti perempuan tersebut dari belakang dengan sembunyi-sembunyi.

Terus menyusuri jalan sepi, kemudian ke pasar hingga akhirnya perempuan itu pergi ke rumah besar. Perempuan itu mengetuk pintu rumah yang besar itu, dan ada sahutan dari dalam setelah perempuan itu memberitahukan siapa dirinya kemudian keluar 4 gadis membukakan pintu, dengan cepat perempuan itu masuk dan memberikan kantong itu kepada gadis-gadis itu, lalu terdengarlah suara tangisan mereka.

Rabi’ terus memperhatikan mereka dari jauh. Jelas, tampak mereka sangat kelaparan kemudian Rabi’ mendekat dan mencoba mendengar perbincangan mereka dari dalam.

Terdengar samar-samar perempuan  tua berkata, “Ambilah daging ini, dan masaklah untuk makan kalian. Bersyukurlah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha kuasa diatas segalanya dan Dia berkuasa membolak-balikan hati manusia”.

Rabi’ mengintip kedalam, ternyata gadis-gadis itu memotong-motong daging dan memanggangnya. Setelah matang, merekapun mulai memakanya. Menyaksikan itu Rabi’ merasakan ngilu didalam hatinya dan gelisah tak terkira sehingga ia terpaksa berteriak kepada mereka, “Wahai, hamba-hamba Allah jangan kalian makan daging itu!”

“Hei siapa kamu?” teriak mereka terkejut.

“Aku pendatang dikota ini,” jawab Rabi’.

Wanita berteriak, “Hai orang asing! Apa yang engkau mau dari kami? Kami sedang dalam penderitaan yang cukup parah, sudah tiga tahun tidak ada seorang pun yang menolong kami, jadi apa yang kau inginkan dari kami?”.

Rabi’ menjawab, “Dalam agama apapun tidak dibenarkan memakan daging bangkai, kecuali sebagian orang majusi.”

Wanita menjawab, “Kami masih keturunan Rasulullah SAW. Ayah gadis-gadis ini adalah seorang sayid yang mulia.”

Dia berencana menikahkan gadis-gadisnya dengan laki-laki yang sederajat. Namun sebelum niatnya terlaksana dia meninggal dunia. Sejak itu harta yang dia tinggalkan untuk kami perlahan habis. “Kamu tahu, bahwa agama kita membolehkan memakan bangkai tapi dalam keadaan terpaksa hal itu dibolehkan, kami sudah empat hari tidak menemukan makanan apapun, sehingga kami sangat kelaparan. Yang ada hanyalah bangkai ini.”

Rabi’ sedih bukan kepalang dan menangis, bergegas pergi meninggalkan mereka. lalu, ia menemui saudaranya yang menemaninya haji. Rabi katakan padanya bahwa ia membatalkan ibadah hajinya.

Tentu saudaranya sangat kaget, dia menyarankan agar Rabi’ meneruskan perjalanan hajinya. Dia merayu Rabi’ dengan menyampaikan keutamaan-keutamaan ibadah haji dan ampunan dosa yang didapat bagi orang yang menunaikan ibadah haji.

Namun Rabi’ hanya diam dan langsung mengambil pakaian ihram serta barang-barangnya meninggalkan rombongan haji, ia langsung menuju ke pasar.

Ia membeli tepung sebanyak dua ratus dirham, pakaian seratus dirham dan beberapa barang lainnya, kemudian membawanya ke rumah wanita tersebut dengan menyisipkan uang selebihnya ke dalam tepung. Ketika ibu dan para gadis itu menerimanya, mereka langsung memanjatkan syukur kepada Allah.

Ibu itu berkata kepada Rabi, ”Wahai, ibnu Sulaiman, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang, semoga Allah SWT memberimu pahala haji dan surga yang tinggi, Semoga Allah memberikanmu ganti yang lebih baik daripada apa yang kau berikan kepada kami dan engkau kelak akan mengetahuinya”.

Gadis pertama berkata, “Semoga Allah memberimu balasan yang lebih banyak daripada apa yang telah engkau berikan kepada kami”.

Gadis kedua berkata, “Semoga Allah memberimu balasan yang lebih banyak daripada yang telah engkau berikan kepada kami”.

Gadis ketiga berkata, “Semoga Allah membangkitkan mu pada hari kiamat bersama kakekku Rasulullah SAW.”

Dan gadis keempat berkata,“Ya Allah, orang yang memberi kami, maka berilah dia sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, dan ampunilah dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”.

Setelah menunaikan semua itu, Rabi’ terpaksa tinggal di Kufah, sedangkan kafilah hajinya tetap meneruskan perjalananya menuju ke Baitullah. Ketika mereka kembali dari haji, Rabi’ menyambut mereka dengan harapan mereka akan mendoakannya degan keberkahan haji mereka.

Ketika pandangan mata Rabi’ melihat jamaah pertama yang tiba, ia merasa sedikit menyesal karena tidak jadi menunaikan haji. Ia sedih dan air matanya berlinang, ia menyambut mereka dan berkata,  “Semoga Allah menerima hajimu dan memberimu pahala atas semua yang telah engkau belanjakan disana”.

Salah seorang dari mereka berkata pada Rabi, “Hei apa yang engkau katakan?”

Rabi’ menjawab, “Itu adalah dia harapan dari seorang yang gagal mendapatkan rahmat untuk hadir dirumah-Nya”.

Temannya menjawab lagi “Aneh, siapa yang gagal berhaji? Bagaimana engkau menolak kehadiranmu sendiri disana? Bukankah engkau berkata sama kami ketika di Arafah? Engkau juga bersama-sama kami ketika jumrah? Bukankah engkau juga tawaf bersama-sama kami?”

Ia terdiam dan berpikir mungkin ini anugerah dari Allah SWT, ia duduk menunggu disitu, kemudian para haji yang lain tiba. Lalu, ia mendoakan seperti ia mendoakan haji sebelumnya. “Semoga Allah menerima hajimu dan memberimu pahala karena mujahadahmu dan hartamu yang telah digunakan di jalan-Nya.”

Mereka terkejut, mereka menyatakan bahwa Rab’I juga turut hadir bersama mereka di Arafah, di Mina dan tempat lainnya. Mereka sangat terkejut ketika Rabi’ mengingkarinya. Salah seorang dari mereka berkata,

“Wahai saudaraku, mengapa engkau mengingkarinya? Apakah maksud dari semua ini? Bukankah engkau bersama-sama kami di Mekah dan Madinah? Bahkan ketika di Madinah ketika kita keluar dari Babu Jibril, engkau menitipkan tas kepadaku karena orang berdesak-desakan disekitar kita.”

“Nah, sekarang ambillah tas uang mu ini”.

Orang itu menyerahkan sebuah tas hitam dan ditas itu ada tulisan “Siapa yang bermuamalah dengan Kami akan beruntung”.

Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat tas uang ini seumur hidupku”.

Dengan penuh heran dan ragu ia terpaksa menerima tas itu, setelah shalat isya dan menyelesaikan wirid malamnya, ia merebahkan badannya sambil memikirkan kisah yang ganjil itu. ia telah hadir menunaikan haji, padahal ia sendiri tidak berangkat haji.

Sibuk memikirkan keganjilan tersebut, akhirnya ia pun tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah. Ia memberi salam kepada Rasulullah dan mencium tangannya. Dengan senyum yang cerah Rasulullah menjawab salamnya dan bersabda kepadanya, “Wahai Rabi’, berapa orang saksi lagi yang engkau kehendaki, sehingga engkau percaya bahwa engkau telah menunaikan ibadah haji? Namun, engkau belum mempercayainya. Dengarkanlah dengan kebaikan hatimu engkau telah membatalkan hajimu dan sebaliknya, biaya hajimu telah engkau berikan kepada wanita dari keturunanku. Maka ketika engkau memberikan perbekalanmu kepada mereka, aku berdoa kepada Allah agar menganugerahkan bagimu pahala yang lebih baik dan lebih menguntungkan sebagai gantinya. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat menyerupaimu dan memerintahkannya agar berhaji untukmu setiap tahun, bahkan untuk selama-lamanya di dunia ini. Allah telah memberikan enam ratus uang mas sebagai ganti enam ratus dirham yang telah engkau belanjakan, siapa yang bermuamalah dengan Kami pasti beruntung”
(Republika.co.id)

Jumat, 09 Desember 2016

Warisan Seljuk dalam Gaya Arsitektur Masjid


DINASTI Seljuk merupakan satu dari dua dinasti yang menguasai Turki paling lama setelah Turki Usmani. Hampir 300 tahun Dinasti Seljuk menguasai Anatolia (yang termasuk wilayah Turki). Tak heran jika arsitektur di daerah tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh gaya dinasti ini.

Kekaisaran Seljuk yang berkuasa dari abad ke-11 hingga 14 M dikenal sangat mendukung perkembangan kebudayaan, salah satunya adalah seni bangunan. Maka tidaklah heran jika pada masa kekuasaan Seljuk berdiri banyak bangunan dengan arsitektur yang mengagumkan.

Seljuk mewarisi dan dipengaruhi dua peradaban Anatolia yang berbeda, yaitu Hitties dan Urraltus. Namun, hanya sedikit dari bangunan dengan arsitektur Seljuk yang tersisa. Bencana meruntuhkan hampir sebagian besar dari bangunan-bangunan yang diwariskan peradaban Islam di era keemasan Seljuk tersebut.

Arsitek dunia mencatat ada dua arsitektur Seljuk yang paling terkenal, yaitu caravanserai dan madrasah. Caravanserai merupakan tempat singgah bagi pedagang. Selain dua hal tersebut, arsitektur masjid juga banyak dipengaruhi oleh gaya Seljuk.

Salah satu masjid yang  masih berdiri megah dan merupakan peninggalan arsitektur Seljuk adalah Masjid Agung dan Rumah Sakit Divrigi. Masjid tersebut didirikan pada masa kekuasaan Emir Ahmad Shah. Masjid ini dibangun pada abad pertengahan sekitar tahun 1229. Pada saat yang sama, istri Ahmad, Melike Turhan Malik, mengepalai sebuah rumah sakit.

Arsitektur masjid tersebut menunjukkan ciri khas dinasti Seljuk, terutama pada pintu masuknya. Ciri khas arsitektur Seljuk terdapat pada pintu masuknya yang menjorok ke depan dibandingkan dinding bangunan. Gerbang depan ini diukir dan dihias dengan bermacam-macam ornamen, flora, dan kaligrafi. Bagian atasnya yang terdapat lengkungan juga merupakan salah satu ciri khas. (Republika.co.id)

Minggu, 04 Desember 2016

Aisyah binti Sa'ad bin Abi Waqqas, Perempuan Terakhir dari Kaum Muhajirin

foto: ilustrasi.
Aisyah binti Sa'ad bin Abi Waqqas, Perempuan Terakhir dari Kaum Muhajirin - Namanya adalah Aisyah, sama seperti Ummul Mukminin, Istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar. Dia adalah Aisyah ash-Shughra binti Sa'ad bin Abi Waqqas. Aisyah binti Sa'ad dikenal sebagai ahli fikih dan ahli hadis. Maklum, dia adalah salah satu murid dari Ummul Mukminin.

Salah satu keutamaan Aisyah binti Sa'ad adalah penguasannya dalam berbagai bidang ilmu, mulai dari fikih, hadis, tafsir, sejarah, bahkan strategi perang. Kemampuan Aisyah ini tidak terlepas dari asal keturunannya. Aisyah adalah putri dari salah satu sahabat Rasulullah SAW, Sa'ad bin Abi Waqqas.

Bahkan, Rasulullah sendiri yang telah menjamin Sa'ad menjadi salah satu penghuni surga. Sa'ad merupakan salah satu pahlawan Perang Uhud dengan terus melindungi Rasulullah SAW. Keberanian dan ketaatan ini ternyata turun ke Aisyah, terutama dalam hal kewajiban menuntut ilmu.

Aisyah lahir setelah kaum Muslimin hijrah ke Madinah, tepatnya pada 33 Hijriyah di akhir masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Sebagai putri dari salah seorang sahabat, Aisyah memang memiliki akses untuk bisa menimba ilmu kepada semua Ummul Mukminin atau istri-istri Rasulullah SAW.

Tapi, Aisyah kerap mendatangi Aisyah binti Abu Bakar untuk bisa menimba ilmu. Aisyah pun banyak belajar dan meniru kehidupan serta kesederhaaan para istri Nabi Muhammad SAW.

Termasuk, dalam hal beribadah. Aisyah binti Sa’ad turut mempelajari dan menirukan wudhu para istri Rasulullah SAW. Dia juga banyak bertanya kepada istri Rasulullah SAW terkait masalah-masalah agama dan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi seorang Muslimah.

Tidak hanya itu, Aisyah juga dikenal sebagai ahli ibadah. Dia bahkan dikenal selalu mengikuti shalat Isya berjamaah di Masjid Nabawi, Madinah. Tentunya, dengan tetap menjaga adab dan keselamatan bagi dirinya dan perempuan lain.

Perbuatan Aisyah ini bahkan disebut menjadi dalil bagi perempuan yang ingin melakukan shalat berjamaah di masjid, tapi tetap menjaga adab-adab Islami terhadap kaum perempuan. Selain belajar dari Ummul Mukminin, Aisyah juga menimba ilmu dari sang ayah, Sa’ad bin Abi Waqqas.

Alhasil, dengan ilmu yang berasal dari Ummul Mukminin dan ayahnya, Aisyah dikenal sebagai salah satu perawi hadis terpercaya dari kalangan tabiin. Kondisi ini juga diperkuat dengan sifat kesungguhan dan kehati-hatian dalam menjaga amanah yang dimiliki Aisyah. Ulama-ulama besar pun banyak yang meriwayatkan hadis dari Aisyah. Salah satu ulama besar ahli hadis, Imam Malik lebih memilih hadis yang diriwayatkan Aisyah binti Sa’ad.

Kapasitas keilmuan Imam Malik memang tidak bisa diragukan lagi. Tentu, dengan kapasitas itu, Imam Malik tidak akan begitu saja mengambil periwayat hadis. Tapi, Imam Malik memilih Aisyah binti Sa’ad sebagai satu-satunya wanita periwayat hadis. Imam Malik disebut tidak pernah meriwayatkan hadis dari wanita selain Aisyah binti As’ad.

Dari berbagai hadis yang telah diriwayatkan Aisyah, ada sejumlah hadis yang cukup populer, antara lain, soal mendoakan dan mengunjungi Muslim yang tengah sakit. Ini dilakukan agar dapat meringankan penderitaan si sakit.

Aisyah binti Sa’ad meriwayatkan bahwa ayahnya bercerita, ‘’Ketika saya di Makkah, saya mengadukan sakit yang begitu berat kepada Rasulullah SAW. Kemudian, Rasulullah SAW menjenguk saya. Kemudian, beliau menaruh tangan beliau dan mengusapkannya pada muka dan perut saya, seraya berdoa, ‘Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad dan sempurnakanlah hijrahnya.’’’

Selain itu, ada pula hadis yang menyebutkan soal penggunaan tasbih (as-sabhah) atau kerikil saat sedang berzikir. Sebagaimana hadis dari Aisyah binti Sa’ad dari ayahnya, ‘’Bahwa kami masuk bersama Rasulullah SAW ke rumah seorang wanita (yang sedang berzikir) dan ditangannya itu ada kerikil atau biji yang digunakan untuk bertasbih,’’ (HR Abu Daud). Hadis ini menjelaskan, Rasulullah SAW melihat orang menggunakan alat bantu dalam berzikir, tapi tidak melarangnya.

Memang, peran terbesar Aisyah binti Sa’ad adalah menyampaikan hadis yang didapatkannya dari sang ayah. Imam Nawawi menyebut, Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan setidaknya 270 hadis dari Rasulullah SAW. Hidup selama 84 tahun, Aisyah akhirnya meninggal dunia pada 117 Hijriyah.

Selama hidupnya, Aisyah mengabdikan diri untuk beribadah kepada Allah SWT dan menggali ilmu agama serta menyebarkannya. Tidak hanya itu, Aisyah binti Sa’ad juga tercatat sebagai wanita terakhir yang tersisa dari kaum Muhajirin. Dia mengatakan, ‘’Demi Allah, tidak ada yang tersisa dari keturunan Muhajirin selain diriku.’’


Sumber
: Republika.co.id

Selasa, 29 November 2016

Kemarau Panjang Tahun 2019 hingga 2022?


BADAN Meteorologi dan Geofisika menyatakan bahwa akan terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia. Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa 3% saja. Lalu apa artinya informasi ini bagi kita?

Artinya adalah keluarnya Dajjal telah sangat dekat. Dan munculnya Imam Mahdi telah berada di tengah-tengah kita, tanpa kita sadari. Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti.

Dalam hadits tentang kisah Tamim Ad-Dari, keluarnya Dajjal di tandai dengan keringnya danau Thabariyyah (Tiberias), keringnya mata air Zughar, dan pohon kurma Baisan tidak berbuah lagi. Dan jika kita mengikuti perkembangan informasi terakhir tentang tiga pertanda tersebut, sudah nyata terjadi.

Sudah dua tahun ini, pohon kurma di Baisan tidak berbuah lagi. Diikuti dengan semakin minusnya mata air Zughar. Dan yang paling mencengangkan adalah surutnya air di danau Tiberias di Israel sudah sangat mengkhawatirkan.

Sedemikian, sehingga pemerintah Israel sibuk mencari sumber air lain. Salah satunya perencanaan penyulingan air laut. Dalam hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan selama kurun waktu 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun 2019 hingga 2022.

Jika di antara kita ada yang pernah berhaji dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014, maka insya Allah pernah berjumpa dengan “calon Imam Mahdi” di dekat Ka’bah. Dan hanya orang-orang khusus saja yang mengetahui tanda tandanya. Dan kemunculan Imam Mahdi ini seperti yang pernah di nubuwahkan oleh Rasulullah adalah ditandai wafatnya Raja yang namanya bermakna nama hewan.

Bisa jadi ia adalah Raja Fahd (Fahd: singa). Setelah itu terjadi perselisihan. Dan naik tahta raja yang banyak dosa, kemudian meninggal, kemudian muncul raja yang baik. (Bisa jadi ia adalah Raja Salman). Wallahu a’lam.

Di masa atau setelah masa pemerintahan Raja Salman inilah terjadinya pembai’atan atas Imam Mahdi. Dari pertanda ayat-ayat qauniyah tersebut, kesimpulannya adalah akhir dari fananya dunia ini sudah demikian dekat.

Marilah kita berbuat baik semaksimal mungkin, dan ajaklah setiap berjumpa dimanapun untuk semakin bersungguh sungguh memperbanyak amal akhirat.

Waallahu a’lam bi showab. []

Artikel ini beredar viral di media sosial utamanya di WhatsApp. Kami kesulitan menghubungi dan menyertakan sumber pertama. Judul oleh Redaksi dengan tanpa mengubah konten.

Sumber: Islampos.com

Jumat, 11 November 2016

Meneladani Makhluk Allah SWT yang Bernama Lebah


ALAM semesta beserta organisme yang hidup di dalamnya adalah salah satu hal yang diterangkan Alquran. Binatang, misalnya. Terdapat beberapa hewan yang dikisahkan Alquran agar umat dapat memetik pelajaran serta hikmah dari kehidupannya.

Salah satu binatang yang dituliskan dalam Alquran adalah lebah. Penjelasannya termaktub dalam surah an-Nahl. Dari surah tersebut, umat dapat mencontoh gaya hidup yang dipraktikkan oleh lebah.

Menurut Adnan Oktar atau biasa dikenal Harun Yahya, seorang ilmuwan dan dai terkemuka asal Ankara, Turki, lebah memang serangga mungil yang tak mampu berpikir. Tetapi, mereka mampu menyelesaikan pekerjaan besar yang tak dapat disepelekan manusia. Sebab, pekerjaan tersebut membutuhkan perhitungan dan perencanaan khusus.

Salah satu hal yang layak ditiru dari lebah adalah kekompakannya dalam mencapai sebuah tujuan bersama. Misalnya, ketika mereka membuat sarang. Secara gigih dan sungguh-sungguh, mereka mengerjakan tugasnya masing-masing guna meraih tujuan tersebut.

Lebah memang insekta sosial yang senantiasa hidup gotong royong dan saling ketergantungan. Pembagian tugas dan tanggung jawabnya sangat tertib, disiplin, dan didasarkan pada kesadaran diri masing-masing guna tercapainya tujuan atau cita-cita bersama.

Hal tersebut  belum tentu dapat dilakukan manusia. Ketika membentuk sebuah organisasi, misalnya, manusia acap kali tak mampu saling membantu dan bekerja sama.

Akibatnya, tujuan yang diimpikan gagal dicapai. Selain itu,  lebah juga selalu mengonsumsi makanan yang baik dan menghasilkan yang baik pula. Lebah selalu berupaya mengonsumsi makanan yang baik dan murni. Dalam konteks ini adalah bunga-bunga yang segar dan tidak dalam kondisi layu.

Ketika mengisap nektar bunga, lebah juga akan membawa serbuk sari bunga tersebut kepada bunga lain yang dihinggapinya. Dengan demikian, lebah tak hanya mengambil, tapi juga memberikan kehidupan untuk bunga lainnya. Dari proses tersebut lebah akhirnya dapat menghasilkan madu.

Sebuah zat yang memiliki banyak manfaat, khasiat, dan menjadi sebuah produk atau komoditas yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Bertolak dari hal itu, manusia juga sudah sepatutnya mencontoh lebah ketika mencari dan mengonsumsi makanan. Yakni, makanan yang baik dan didapatkan dengan cara yang baik pula. Dalam konteks ini tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT. Sebab, Allah SWT telah berfirman tentang hal tersebut.

Misalnya, dalam surah al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi, "Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu."

Kemudian, hal berikutnya yang layak ditiru dari lebah adalah kegigihannya dalam bekerja. Harun Yahya menulis,  tak diragukan lagi bahwa lebah merupakan serangga pekerja keras.

Untuk mengumpulkan satu kilogram madu saja, seekor lebah dapat menempuh perjalanan puluhan, bahkan ratusan kilometer untuk mencari bunga-bunga segar. Dengan tubuhnya yang mungil, jarak tersebut tentu tak dapat dianggap enteng.

Dari hal-hal tersebut, tak salah bila Allah SWT mewahyukan sesuatu kepada lebah. Seperti yang diterangkan dalam surah an-Nahl ayat 68 dan 69.

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa perumpamaan yang tepat untuk merepresentasikan orang beriman adalah lebah. "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)." (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar).

Sumber: Republika co id

Selasa, 18 Oktober 2016

Ketahuilah, Kita akan Dipimpin Oleh Pemimpin Penyeru Kemungkaran


SETIAP manusia di muka bumi ini adalah seorang pemimpin. Kita menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri dan keluarga. Tetapi, suatu wilayah pun membutuhkan sosok pemimpin, untuk memimpin negeri ini. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita tentang pentingnya seorang pemimpin dalam suatu kaum.

Oleh sebab itu, kita harus menentukan pemimpin bagi wilayah kita. Tentunya, kita tak bisa sembarang dalam memilih pemimpin. Kita bisa mengacu kepada kepemimpinan Rasulullah. Dialah sosok pemimpin terbaik bangsa. Suri tauladan bagi kita. Ia memiliki perilaku-perilaku yang baik, yang mencerminkan seorang pemimpin. Dan seperti itulah kita harus memilih pemimpin. Di mana sifat-sifat kepemimpinan yang baik dari Rasulullah ada pada orang yang akan menjadi pemimpin.

Tapi sayang, akan tiba suatu masa di mana orang-orang yang memiliki kepribadian baik tidak lagi memimpin. Sedang orang yang senang berbuat mungkar itulah yang akan memimpin kita. Ia akan selalu menyeru pada kemungkaran. Inilah salah satu tanda bahwa dunia tidak akan bertahan lama.

Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatinya,” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Dalam hadis tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada kita, agar tidak menaati pemimpin yang menyeru pada kemungkaran. Sebab, hal itu akan merugikan diri kita sendiri. Hal mungkar adalah perbuatan tercela. Dan Allah tentu tidak menyukai hal itu. Jika kita menaati perintah dari pemimpin demikian, maka tunggulah akan adzab Allah. Di mana tak akan ada manusia yang bisa selamat dari siksa Allah.

Tapi, dari mana kita tahu bahwa pemimpin itu menyeru pada kemungkaran? Di sinilah pentingnya mempelajari ilmu agama. Jangan hanya ilmu tentang dunia yang kita pelajari. Selagi masih ada alim ulama yang paham akan syariat Islam, maka gunakanlah kesempatan itu untuk memperoleh ilmu darinya. Sebelum mereka pergi meninggalkan kita. Agar kebodohan tidak cepat merebak di muka bumi ini. Wallahu ‘alam.

Sumber; Islampos.com

Habib Rizieq: Ironi Umat Islam Indonesia


Oleh: Habib Muhammad Rizieq Syihab
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)

Indonesia adalah negara muslim terbesar dan terluas serta terbanyak penduduk muslimnya di dunia, namun ironi aneka kebathilan dan kekafiran mendominasi, antara lain :

1. Takbir keliling di malam Hari Raya untuk agungkan Allah SWT habis-habisan dikecam dan dilarang dengan dalih macetkan lalu lintas. Namun arak-arakan Presiden dan Wakilnya hingga jalan protokol ditutup total, tidak mengapa, bahkan dipuji dan diapresiasi.

2. Qurban di Jakarta dilarang karena dianggap mengotori Jakarta, tapi serakan kondom bekas zina di malam Tahun Baru Masehi dan puluhan Ton tumpukan sampah Pesta Rakyat arak Presiden di jalan utama Ibu Kota tidak mengapa dan tidak dianggap mengotori Jakarta.

3. FPI menolak pemimpin kafir, lalu FPI disebut diskriminasi dan melanggar HAM serta inkonstitusional. Tapi Ahok menggusur masjid, melarang Qurban dan menolak busana muslim di sekolah, tidak disebut diskriminasi dan pelanggaran HAM, bahkan dinilai konstitusional.

4. Seorang muslim tidak boleh jadi Gubernur di Bali yang mayoritas Hindu, dan tidak boleh juga jadi Gubernur di NTT yang mayoritas Nashrani. Tapi orang kafir boleh jadi Gubernur di Kalbar dan Kalteng yang warga kedua daerah tersebut mayoritas muslim yaitu lebih dari 70%. Dan kini Ahok pun ingin jadi Gubernur Jakarta yang mayoritas warganya muslim.

5. Jika anggota FPI atau anggota ormas Islam lainnya lakukan kesalahan, maka itu adalah kesalahan institusi organisasinya sehingga harus dibubarkan. Tapi jika anggota ormas non Islam/Parpol/Dewan/TNI/Polri/Pejabat Pemerintah lakukan kesalahan, maka itu hanya ulah oknum sehingga institusi organisasinya tidak boleh disentuh, apalagi dibubarkan.

6. Umat Islam menuntut penutupan tempat maksiat setidaknya di bulan Ramadhan dan hari besar Islam, tapi ditolak dengan dalih Indonesia bukan Negara Islam. Tapi di Bali tiap hari raya Nyepi semua tempat hiburan dilarang buka, dan PLN harus padam, serta Bandara Internasional harus tutup. Bahkan ketika Nyepi berbarengan dengan Idul Fitri maka umat Islam di Bali tidak boleh berhari raya.

7. Masih soal Bali. Hingga kini bangun Masjid di Bali tidak boleh. Jika pun boleh, maka proses perizinannya bisa mencapai 40 tahun lebih. Bahkan Jilbab pun mulai dilarang di sekolah-sekolah negeri di Bali. Tapi Pura Hindu Bali berserakan di daerah-daerah muslim, bahkan di tiap halaman rumah Hindu Bali ada pura. Dan mereka pun bebas memakai pakaian adat dan ritual mereka.

8. Saat umat Islam menolak pembangunan rumah ibadat umat lain di wilayah muslim langsung dituduh intoleransi. Namun saat pembangunan Masjid dilarang di Bali dan NTT serta wilayah non muslim lainnya, maka dimaklumi dengan dalih untuk menjaga kearifan lokal (Local Wisdom).

9. Seluruh Negeri Islam atau yang berpenduduk mayoritas muslim menggunakan hilal merah untuk lambang kesehatannya, kecuali Indonesia yang masih menggunakan salib merah.

10. Di Indonesia libur hari Ahad telah memberi Umat Nashrani keleluasaan untuk hidupkan kebaktian gereja dengan pakaian rapi dan wewangian serta tanpa macet di jalan. Sedang Umat Islam dipaksa kerja hari Jum’at, sehingga tidak maksimal menghidupkan Jum’at dengan segala adab dan sunnahnya, karena mereka lelah, capek, pakaian lecak, berkeringat, bau badan, ngantuk, ditambah macet dan panasnya jalan.
Baca Juga :

11. Saat seorang muslim jadi pejabat dituntut habis-habisan untuk  bagi-bagi jabatan kepada non muslim dengan dalih kemajemukan dan keadilan. Namun saat non muslim jadi pejabat, maka dengan leluasa dia bagi-bagi jabatan kepada non muslim seenaknya, tanpa peduli dengan asas proporsional.

12. Pengkhianatan PKI dan Pembangkangan PRRI serta Pemberontakan DI/TII dimuat dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia, tapi pemberontakan dan pengkhianatan PO AN TUI (nama Laskar Cina Indonesia bentukan Penjajah Belanda) terhadap negara RI serta kebiadabannya terhadap Pribumi disembunyikan.

13. Tabligh Akbar dan kegiatan da’wah selalu diawasi Aparat, bahkan di daerah banyak yang ditakut-takuti dan dipersulit “izin”-nya, sedang pertunjukkan musik syetan dan dangdut koplo yang tampilkan Pornografi dan Pornoaksi dipermudah dan dijamin keamanannya.

14. Topeng Monyet dan Ondel-Ondel adalah Hiburan anak-anak Betawi, tapi dilarang Ahok, sedang Barongsai Cina bagian dari Ritual Dewa Cina dibesar-besarkan.

15. Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) yang kini disebut Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) mulai dinodai. Saat parade pembukaan STQ di Ambon ada koteka ikut parade, dan di STQ di Jambi dibuka dengan barongsai.

16. Jika seorang muslim sekedar mendukung ISIS langsung dituduh teroris, dikejar dan ditangkap, walau tidak lakukan tindakan apa pun. Tapi jika orang Kafir dukung RMS dan OPM, bahkan lakukan pembantaian terhadap muslim di Sambas, Sampit, Ambon dan Poso, tidak disebut teroris, dan tidak dikejar serta tidak ditangkap, bahkan para pelakunya hingga saat ini tidak  tersentuh hukum sama sekali.

17. Ketika Osamah mengancam untuk membunuh Obama maka Dunia termasuk Indonesia menyebutnya sebagai kejahatan, namun ketika Obama mengancam untuk membunuh Osamah disebut kebijakan.

18. Ketika Hamas lakukan perlawanan membela Islam dan Palestina, maka dunia termasuk liberal Indonesia menyebutnya sebagai teroris. Namun ketika Israel membombardir dan membantai warga Palestina disebut bela negara.

19. Ketika ada pelarangan pembangunan rumah ibadah kafir, apalagi pembunuhan terhadap seorang kafir saja di negeri atau wilayah muslim, langsung para pendekar HAM berteriak keras dan menyerang Islam. Namun sebaliknya ketika ada pembakaran masjid dan pembantaian ribuan umat Islam di wilayah kafir, para pendekar HAM bungkam seribu bahasa.

20. Ketika ada kyai atau da’i seperti AA Gym yang menikah resmi dan berpoligami secara halal, semua media liberal mem-buli-nya habis-habisan. Namun ketika ada artis yang berzina dan memakai narkoba hingga divonis penjara, berbagai media liberal membelanya habis-habisan. Bahkan saat si artis keluar penjara disambut media dengan gegap gempita bak pahlawan hingga dijadikan pembawa acara unggulan di TV mereka.

Innaa Lillaahi Wa Innaa ilaihi Rooji’uun.

Hasbunallaahu Wa Ni’mal Wakiil. Ni’mal Maulaa Wa Ni’man Nashiir.

Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Azhiim.

Sumber: Situs resmi FPI, fpi.or.id/islampos.com